Review Helm Zeus Z1600 Carbon Dual Visor, Asli Enteng Banget!

Hallo all…

Kembali lagi di Review Helm. Kali ini yang akan jadi bahan review adalah sebuah helm full-face dual-visor yang menurut saya sangat istimewa dari out-of-the-box. Masih produk dari Vietnam, inilah dia….Zeus Z1600 Carbon !

dsc_0722

Well, I don’t know where to start. Awalnya saya tak pernah kepikiran untuk membeli helm ini, namun kesempatan itupun datang. Masih ingat dengan Nolan N64 Checa Black yang dulu pernah saya review? Yap, helm itu tanpa sengaja saya buat baret akibat jatuh bego dari jok motor. Helm-nya aja loh ya, saya mah ngga. Tapi tetep aja malu sih karna sempet diliatin orang gara-gara insiden helm jatuh. Dan yah…hasilnya helm jadi ada luka di bagian visor dan di sisi kiri. Sebulan kemudian, akhirnya saya memutuskan untuk menjualnya dengan harga butuh. Setelah helm berstatus SOLD, saya iseng jalan-jalan ke Juragan Helm Serpong untuk sekedar mencari penggantinya N64. Waktu itu sempet ingin meminang HJC RPHA11. Tapi berhubung budget belum memungkinkan, saya memalingkan mata ke helm lain. Dan ga lama, saya langsung terpikat dengan bodi Zeus Z1600 Carbon yang terlihat aerodinamis.

Langsung deh saya minta izin penjaga tokonya untuk fitting yang ukuran M. Dan impresi pertama ketika memegang helm ini, It’s really light! Enteng banget coy! Saya pikir Nolan N64 udah enteng banget, lah ini lebih enteng lagi. Ketika dicoba di kepala, busanya terasa nyaman, tebal, dan mengekap pipi dengan baik. Tidak terasa ada hot spot di sekitar kepala, yang menandakan fitting helm ini cocok untuk kepala saya. Untuk memasukkan kacamata pun tidak masalah, karena Zeus Z1600 sudah eyeglass ready. Naik-turun visor utama dan visor gelapnya pun lancar dan terasa solid. Semua ventilasinya pun demikian.

Sedikit kendala pada helm ini ada di bagian DD ring-nya. Karena DD ring berbentuk persegi dan bukannya bulat seperti N64, klip talinya suka nyangkut di ring ketika ingin melepas simpul tali. Ada kalanya terasa sulit hanya untuk membebaskan tali dari DD ring karena masalah ini.

dsc_0731

Salah satu fitur unik dari helm ini berada di bagian chin guard. Chin guard pada helm ini terdiri dari dua lapis. Nah, lapis keduanya dapat kita setting sendiri sesuai kemauan kita.

Lastly, Finishing. Sepertinya Zeus ga pandang bulu soal finishing helm-nya. Zeus Z806 yang dihargai 550rb pun memiliki finishing yang terbilang amat baik dibanding helm-helm lain sekelasnya. Di Z1600 Carbon yang dihargai 2.8 juta, finishing-nya pun lebih baik lagi dan mungkin sudah mendekati helm-helm branded mahal lainnya.

Kesimpulan akhir, helm ini sangat worth-to-buy. Dengan harga 2.8 juta, saya sudah mendapat semua yang saya mau dari sebuah helm. Double-visor, carbon fiber shell yang super-enteng, desain aerodinamis, DD ring, dan padding nyaman. Sebenarnya masih banyak yang ingin saya share mengenai review helm ini, karena tanpa sadar saya semakin sering memakai helm ini untuk riding pulang-balik ngantor. Otomatis, bahan review makin banyak dong. Oke deh, sampai jumpa di Part 2 dari review Zeus Z1600 Carbon !

30rb KM Bersama Honda Old CB150R. Gimana Impresinya?

cb_150_2

Hallo all…
Kali ini saya akan iseng me-review motor kesayangan yang bulan ini telah menginjak kilometer ke-30.000 lebih dikit. Ga kerasa udah hampir 3 tahun motor ini telah menemani semua aktifitas saya dari sejak masa kuliah sampai sekarang. Saya inget semenjak motor ini turun dari diler, motor ini udah ada aja yang ilang part bodinya. Padahal udah ketempel jelas-jelas di bodi motor kalau motor ini sudah menjalani pre-delivery check. Sepertinya orang yang kedapetan ngecek motor saya entah lagi ngantuk atau kurang teliti. Tapi syukurlah, kekurangan part bodi bisa cepat terselesaikan dan motor siap dibawa turun ke jalan (dengan catatan tinggal menunggu plat nomor dan STNK dulu).

cb_150_3

Inreyen si CB150 pun jauh dari kata motorsiawi. Odometer belum ada 500km, saya udah bawa geber sampai 120kph dengan rpm menyentuh angka 10rb. Ya mau gimana, hati ini sudah penasaran dengan sensasi mesin DOHC turunan old CBR150. Tapi karna memang judulnya mesin masih inreyen, saya pun sadar oli kudu cepet diganti. Jadilah setelah 500km, saya langsung ke AHASS langganan untuk servis kali pertama dan ganti oli SPX1. Selesai servis, mesin kerasa lebih alus tanpa klotok-klotok.

Ngomongin klotok-klotok, mungkin saya cukup beruntung karena mendapat unit yang sehat. Namun sayang, justru masalah lainnya muncul. Pertama, per gearshift patah di KM5500. Kedua, klaher roda depan-belakang cepet oblak di KM9800. Asumsi saya sih, kualitas perakitan di kedua sektor itu masih ada kekurangan. Buktinya setelah mengganti baru part-part yang rusak tersebut, 20rb KM kemudian ga pernah ada masalah lagi. Mungkin hanya komstir yang terasa sedikit oblak sampai sekarang. Tapi penyakit komstir oblak di CB150 setidaknya masih mendingan dibanding NMP saya yang dulu, karena tidak terlalu mengganggu handling.

Untuk modifikasi perdana, saya pernah memasangkan klakson disk Denso agar suara klaksonnya makin kece. Well…sayangnya ga ada setahun saya terpaksa melepasnya dan kembali ke klakson original karena masalah kabel. Sudah pernah ada niat untuk mengganti kabel, tapi apadaya saya yang udah keburu mager. Hahaha…

cb_150_5

Kemudian, saya beralih untuk memodifikasi kaki-kaki agar handling motor makin nurut. Dimulai dengan mengganti ban depan ukuran 90/80 dan belakang ukuran 120/70. Setelah itu, saya juga memasang under-cowl milik Byson dan gearset SSS rasio 14/44. Ditambah juga filter udara keluaran Ferrox dan aki Motobatt 5A. Menurut saya, modifikasi ini sudah cukup untuk mengakomodir gaya riding saya. Feedback motor semakin baik dan riding quality-nya juga meningkat.

Saat ini, saya memakai ban depan FDR Blaze ukuran 90/80 dan ban belakang Pirelli Angel CT ukuran 120/70. Dibanding duet Mizzle Roadrunner dan IRC Exato, kedua ban ini sudah sangat bagus untuk meningkatkan grip di atas aspal kering dan basah.

cb_150_8

Dan terakhir, busi. Percaya atau tidak, saya pernah menjajal busi iridium keluaran NGK bertipe CPR9EAIX-9. Namun sayangnya, saya tidak puas dengan busi tersebut. Memang respon mesin menjadi lebih baik dari busi standar, tapi busi ini bermasalah ketika riding di suhu udara dingin. Istilahnya apa tuh…Brebet! Nah itu…jadilah saya turun kasta dan kembali ke busi platinum NGK CPR9EAGP-9. Feeling-nya berada di antara busi standar dan iridium, namun tanpa masalah brebet lagi.

Overall saya puas dengan Honda Old CB150R. Hanya dengan sedikit ubahan, riding quality motor ini menjadi lumayan meningkat. Memang sih, ada satu-dua-tiga penyakit kronis. But hey…no big deal! Anggep aja itu poin-poin unik yang dimiliki motor ini.

Review IMOS 2016 dan Ngepoin Gearset Suzuki GSX-R150 / S150, pengennya….

gsx-150

Maap ya Mba, mukanya ga sengaja kepotong. Hehe…

Hallo All…

Udah ngepoin ajang IMOS 2016 di Jakarta Convention Centre belom nih? Saya sih udah, ampe 2 kali malah. Hahaha, niat banget ya diri ini. Namanya juga hobi, ada pameran langsung dah semangat. Kalo perlu, dateng ga cukup sekali kalau rasa penasaran belum terlampiaskan.

Oke, seperti yang kalian udah tahu kalau tahun ini hampir semua pabrikan motor di Indonesia sukses meluncurkan produk-produk barunya. Dan kalau ditanya pabrikan mana yang memiliki attack point tertinggi ?

img_20161105_113139

Oke, Honda CBR250RR memang fenomenal. But wait…

img_20161105_114300

Yamaha juga ga kalah fenomenal dengan varian big scooter-nya. Tapi bentar…

img_20161105_115230

Suzuki…Finally made a serious move! With Powaaa….!

Oke, jadi pabrikan mana yang paling fenomenal?

Yess…It is Suzuki, dengan 2 produk barunya yang berlabel GSX-R150 dan GSX-S150. Akhirnya setelah sekian lama, Suzuki berani (nekat) terjun ke kelas Sport 150cc, kelas paling berdarah di negeri kita yang tercinta ini. Kelas yang memiliki FB (fansboy) dari segala kalangan, segala usia, dan segala merk, siap angkat senjata untuk membela merk maupun produk andalannya masing-masing. Kelas yang wajib memiliki kelebihan di semua aspek performa seperti power, torsi, berat kosong, jenis suspensi, jenis rangka, lebar ban, lampu, speedometer, desain, daya tahan, sparepart, bengkel aftersales, harga jual, bensin, kompresi, you name it. Serius…ga akan ada habisnya jika sudah membahas kelas Sport 150cc.

Jadi, Suzuki. Apa yang membuatmu pede untuk mulai masuk ke medan perang terberat di Indonesia?

Well, sudah bukan rahasia lagi kalau Suzuki itu tidak jago soal mendesain motornya secara 100%. Dikala bagian belakang ke tengah sudah seksi, bagian depannya malah buruk rupa. Contohnya? GSX-R600 2013, GSX-1000F, Katana, dan Gladius. Tapi jangan salah, desain Suzuki seperti itulah yang membuatnya bertahan sampai sekarang. Tidak hanya itu, Suzuki sering membuat gebrakan dengan fitur yang lebih baik maupun mesin yang lebih powerful, namun dengan harga yang masuk akal dan finishing masih bisa pol-polan. Honda? Yamaha? Ah sudahlah, mereka lagi sibuk kerjasama bikin skutik.

rantai_gsx_1

Suzuki GSX-R150 dengan rantai RK 428 KLO dan Gear Sunstar

rantai_gsx_2

Rantainya udah O-Ring. Suzuki kurang baik apa coba?

Ini hanya salah satu contoh keseriusan Suzuki dalam membuat motornya. Saya belum membahas kualitas cat, plastik, las-lasan, jenis ban, tebal rangka, tebal tangki, mesin, dan perangkat rem loh ya. Terutama mesin DOHCnya yang dirumorkan (atau sudah fix) dapat memproduksi tenaga puncak 19HP dan torsi hampir 14Nm.

Tinggal harganya aja yang belum dirilis. Jika Suzuki mampu membuat strategi pricing GSX-R150 di antara CBR150 dan R15, siap-siap dah perang Power-to-Price!

Review Helm Zeus Z806, Bukan Sembarang Helm Impor Murmer

dsc_0706

Hallo All…
Balik lagi ke segmen Review Helm. Kali ini, saya akan me-review sebuah helm impor asal Vietnam yang ternyata ga mahal-mahal amat harganya. Dan helm tersebut adalah ZEUS Z806. Gimana kualitasnya secara keseluruhan? Cekidot aja deh…

BUILD QUALITY JADI POIN PLUS
Kalau ngomongin Vietnam, saya selalu kepikiran ama skuter Piaggio. Bukan kenapa-napa, soalnya saya tahu kalau kebanyakan stok Piaggio di Indonesia adalah buatan pabrik Piaggio Vietnam. Dan kualitas buatan tangan mereka tidak bisa dianggap remeh. Nah, bagaimana hasilnya kalau mereka membuat helm?

Awalnya sih saya ragu, karena jujur saya baru mendengar merk Zeus semenjak 6 bulan yang lalu. Tapi karena berbekal rasa penasaran, akhirnya saya coba untuk mensurvei helm ini ke toko helm yang menjualnya.

Menurut indra peraba saya, helm ini terasa solid. Beratnya juga masih normal di angka 1500 gram, dan itu lumayan enteng untuk sebuah helm full-face double visor. Bagian karet-karet pada helm ini juga  bagus dan rapih, terutama bagian karet visor. Jika dibandingkan dengan KYT K2 Rider, karet visor pada Zeus Z806 sudah bekerja sesuai fungsinya. Ketika visor coba ditutup, karet visor terlihat ada kontak dengan kaca visor. Memang harusnya begini fungsinya lah ya. Kinerja buka-tutup visor juga lancar, namun tidak ada keistimewaan khusus di sektor ini. Cara bongkar-pasang visor-nya juga bukan yang paling mudah dibanding rival-rivalnya.

dsc_0718

Cara membongkar visor-nya, pertama buka visor dulu sampai atas. Kemudian, lihat ada sebuah pin yang saya tunjuk. Geser pin tersebut ke arah bawah, kemudian lepas visor dengan cara posisikan tonjolan visor ke posisi tersebut, angkat visor keluar, putar kebelakang, dan visor terlepas. Ribet kan?

FYI, cara memasang visor-nya kembali juga terbilang lebih sulit. Tapi yaa…semua butuh adaptasi. Jadi, harap maklum.

dsc_0712dsc_0714

Sistem penguncian helm ini masih menggunakan quick-release buckle. Tapi berbeda tidak seperti kebanyakan mekanisme quick-release yang ada di helm-helm buatan lokal, quick-release milik Zeus lebih simpel untuk digunakan karena mekanisme-nya adalah one-touch release. Untuk melepas tali helm, cukup tekan pelat merah dan kunci helm akan terlepas dengan cepat.

Dari sisi interior helm, satu hal yang saya lihat adalah padat berisi. Dan memang benar, karena busa dalam helm ini terasa padat ketika saya coba di kepala. Awalnya sempit banget, berasa pakai helm balap. Butuh seminggu sampai busa-busa padatnya menyesuaikan kontur muka saya.

Satu lagi yang saya suka adalah, helm ini sudah eyeglass friendly. Which means, saya bisa memakai kacamata di dalam helm ini tanpa kesulitan apapun. Gagang kacamata bisa masuk lancar dan menempel sempurna di daun telinga.

dsc_0705

Owh, hampir lupa. Kalian lihat knob hitam yang ada di sebelah kiri helm? Nah, knob tersebut berfungsi untuk menurunkan sun visor. Tinggal tekan knob-nya ke arah bawah. Dan untuk menaikkan sun visor kembali, tinggal tekan knob ke arah atas. Mekanismenya memakai per, jadi terasa sangat mudah digunakan.

dsc_0707

AIR FLOW GA LANCAR
Yup, itu poin minus dari helm ini. Lubang udara atas helm ini sama sekali tidak bagus. Untungnya, lubang udara depan bekerja sebagaimana mestinya untuk mengurangi fogging pada visor. Namun biarpun begitu, helm ini masih terasa adem untuk digunakan lama.

Jadi bagaimana, apakah saya menyukai helm ini? Jawabannya adalah YA. Disamping kelemahan yang ada, helm ini bisa dibilang hampir tak ada cacat. Build quality rapih, karet-karetnya bagus, bobot lumayan enteng, busa dalam tebal nan nyaman, double-visornya mantep, dan harganya hanya 550rb untuk sebuah helm impor. It’s a very good cheap helmet. Well done, Zeus Z806! You did impress me!

Review Helm Nolan N64, Hampir Sempurna!

Hallo all…
Kita balik lagi ke segmen Review Helm. Kali ini saya akan me-review helm premium yang bisa dibilang pasaran. Kenapa saya bilang pasaran? Karena biarpun harganya terbilang mahal, ternyata banyak loh yang punya helm ini. Dan helm apakah itu?

Ini dia…Nolan N64!

n64_1

Oke, untuk pembukaan, saya akan ngasih definisi singkat dulu tentang helm Nolan N64 ini. N64 adalah varian helm full-face keluaran Nolan yang kastanya masih berada di Entry Level. Namun biarpun masih Entry Level, jangan berharap kualitas helm ini setengah-setengah. Malah secara keseluruhan, build quality helm ini Sempurna! Shell luar terbuat dari polycarbonate keluaran Lexan, alhasil bobot helm bisa menjadi sangat ringan walaupun belum seringan Carbon Fibre loh ya. Visor-nya lentur, namun tebal dan terasa sangat solid. Busa dalamnya juga juara, sangat nyaman dan tidak cepat bau. Finishing cat, karet visor, dan bodi bawah helm ini sangat-sangat rapi. 3 ventilasi yang terdapat pada helm ini juga mudah untuk dibuka-tutup, dan terasa solid sehingga tidak akan rusak dalam waktu yang cepat. Well done, Italy!

n64_2

Nah, bicara soal desain, saya dengan enteng berpendapat kalau Nolan N64 ini adalah salah satu helm full-face dengan desain tercantik di kelasnya. Nolan juga ga pelit ngasih livery-livery para pembalap andalannya untuk diaplikasikan di helm Entry Level ini. Mungkin beberapa hal itulah yang membuat helm ini menjadi sangat populer di kalangan Helmet Lovers.

n64_8

Sistem penguncian helm ini ada 2 versi, yaitu versi DD ring dan Microlock Strap. Kebetulan yang saya review adalah versi DD ring, karena saya merasa lebih nyaman memakai sistem penguncian DD ring. Awalnya memang perlu banyak adaptasi dulu, namun lama kelamaan pastinya langsung terbiasa.

Aksesorisnya gimana?
Jangan kuatir, banyak kok toko helm online yang menjual aksesoris resmi untuk Nolan N64, seperti visor gelap dan pinlock. Harganya memang tinggi sih, tapi sepadan lah biar helm ini makin ganteng. Hehehe…

Ada yang lainnya ga?
Well, sayangnya udah itu aja kelengkapannya. Helm ini tidak dilengkapi dengan breath deflector dan chin guard. Sehingga visor dalam jadi mudah ngembun ketika udara luar sedang dingin. Memang sih, jika kita melengkapi visornya dengan Pinlock, masalah ngembun ini otomatis selesai. Membuka ventilasi depan juga lumayan efektif menghilangkan embun pada visor.

Review Time!
Setelah 7 bulan memakai helm ini, berikut poin-poin yang dapat saya jabarkan :
+ Sesuai ekspektasi, busanya nyaman
+ Semua ventilasi bekerja optimal
+ Kualitas optik visor sangat bagus, nyaman buat mata
+ Mekanisme buka-tutup visor lagi-lagi terasa solid
+ Aerodinamikanya bagus, dibawa riding high speed helm tidak terasa goyang
+ Bisa pasang Pinlock, visor-nya jadi anti embun
+ Ga ada yang aneh dari helm ini
+ Tali DD ring yang rapi dan mudah digunakan
– Suara deru angin lumayan berisik, mungkin efek area telinga terlalu terbuka dan tak ada chin guard
– Tidak ada breath guard, sehingga membuat visor cepat ngembun (kalau belum pakai Pinlock)
– Tidak terlalu nyaman dipakai lama untuk yang memakai kacamata
– Kadang ventilasi atas sulit ditutup
– Kaca Pinlock mudah kendor dari dudukannya

n64_3

n64_4

n64_5

n64_6

n64_7

Nah, helm ini sangat saya rekomendasikan buat kalian yang baru mau mencoba untuk meminang helm harga premium untuk dipakai harian. Sekali lagi, helm ini adalah kelas Entry Level, sehingga ga ada bermacam-macam fitur yang bikin mumet penggunanya. Yang ada adalah, helm ini menarik untuk dilihat dan nyaman untuk dipakai. Cocok buat kalian yang suka untuk mencoba hal baru, namun masih main aman. Mayan lah buat pamer #ehh

Review Helm KYT K2 Rider, Full-Face Dual Visor Nyaman buat Harian

Hallo All…
Setelah kita membahas soal oli motor di postingan sebelumnya, kali ini saya akan mengangkat topik mengenai review helm full-face. Yah, mungkin bakal berasa basi karena helm-nya juga udah keburu pindah tangan. Tapi kalo soal impresi sih, saya masih inget banget karena helm ini udah nemenin saya selama kurang lebih 1 tahun, dan udah pernah dibawa jalan-jalan ke Bogor dan Puncak, which is, masih deket dari Jakarta. Hehe…,jadi buat kalian yang masih penasaran, Check it Out aja deh!

K2_Rider_1

Nah, ini dia bahan review-nya. Ka-Ye-Te Ka-dua Raider, alias KYT K2 Rider. Helm ini saya beli di sebuah toko helm pinggir jalan yang berlokasi di Jl. Raya Bogor, pas sebelum pom bensin besar Pertamina. Kala itu, saya menebus helm ini dengan harga Rp 500rb, itupun sudah include nawar-nawar ampe mabok. Hahaha…Maklum, waktu itu status masih mahasiswa dan pendapatan masih ngandelin ortu serta gaji ala kadarnya dari magang sebagai Asisten Lab Kampus. Jadi mau bagaimanapun, saya bertekad untuk menebus helm ini dengan budget yang saya punya. Saya naksir helm ini karena sudah dilengkapi Double Visor dan padding yang lebih lembut dibanding helm KYT RC7 dan R8 Matic saya yang dulu. Plus, bisa masang sistem alfabet juga. Sayangnya, satu set alfabet untuk helm ini dijual terpisah dengan harga Rp 140rb.

K2_Rider_2

Kalau saya lihat secara fisik sih, helm ini udah lumayan berasa kokoh dan di beberapa titik sudah mendapat improvement dari helm-helm KYT sebelumnya, terutama di bagian karet bawah. Finishing cat secara keseluruhan juga bagus. Namun sayang, kualitas karet visor masih saja buruk. Baru selang 3 bulan saya pakai, karet visor udah mulai lepas dari tempatnya. Tapi bisa diakalin sih, tinggal kasih double-tape dan tempel ulang, beres.

K2_rider_7

Sistem penguncian menggunakan Microlock, standar namun cukup efektif. Ga ada keluhan di sistem penguncian ini. Busa dalamnya juga ternyata sangat nyaman, enak buat dipakai riding selama 2-3 jam. Buat yang berkacamata, nyelipin gagang ke dalam helm ini agak sulit. Karena biarpun area muka agak longgar, area telinga ke belakang malah sempit. Ini yang bikin saya kadang-kadang susah untuk memasukkan kacamata ke dalam helm ini.

K2_Rider_3

K2_Rider_4

Nah, sekarang kita pindah ke bagian visor helm yang sudah anti glare dan anti scratch. Faktanya, visor utama helm ini bisa PnP dengan milik RC7 dan R8. Jadi ga susah kalau sewaktu-waktu kalian harus ganti visor, secara stok visor RC7 masih gampang dicari, entah di toko helm biasa atau di toko online. Cara lepas-pasang visornya juga sama seperti RC7, jadi kalian pasti tahu lah yaa. Tidak ada keluhan untuk sistem buka-tutup visor-nya. Yang suka saya keluhkan adalah visor-nya belum anti-fog, sangat mudah mengembun di segala cuaca.

K2_Rider_5

Ventilasi depan helm ini besar, dan efeknya udara mudah masuk ke dalam helm sehingga kepala kita tidak akan merasa gerah selama riding. Namun di saat yang sama juga buruk. Karena percaya atau tidak, ventilasi besar yang berada di depan helm ini TIDAK BISA DITUTUP. Makanya ketika dipakai pas cuaca hujan, bisa ditebak, air hujan bisa menembus ventilasi depan dan membuat area muka menjadi basah. Diperparah lagi dengan air yang mudah merembes di area dalam visor. Memang ada tombol kecil di dekat sistem ventilasi, tapi sayang itu hanya dekorasi tanpa fungsi apapun. Sistem buka-tutup ventilasi atas juga terlalu longgar, sehingga mudah terbuka sendiri. Bahan karet Breath deflector-nya terlalu elastis dan chin guard terlalu kecil.

Jadi buat kalian yang memiliki budget 500 ribuan dan ingin meminang sebuah helm full-face double-visor, KYT K2 Rider bisa jadi bahan pertimbangan. Build quality yang cukup, busa helm yang nyaman, sparepart-nya gampang, dan ada sistem alfabet membuat helm ini menjadi layak dibeli untuk dipakai riding sehari-hari.

Oil Review : Repsol Moto 4T Sport 10W-40

Hallo all…
Balik lagi ke artikel Oil Review. Berhubung Ane lagi kere, kali ini Ane akan ngebahas oli yang murah aja lah ya. Review ini mungkin akan menjadi review pendek dan membosankan, tapi ga ada salahnya juga sih buat dibaca. Ya gak? Tapi tenang aja, biarpun oli ini murah, bukan berarti ga bagus loh yaa…

Repsol_murah

Oke, seperti yang Ane bilang sebelumnya, Ane lagi kere. Hasil dari bayar cicilan KK, tagihan internet rumah, dan akomodasi liburan 2 hari ke Bandung membuat Ane berpikir ulang untuk berhemat dulu. Korbannya, ya ritual ganti oli kali ini. Sebenernya kasian juga ama si Cibi yang 6 bulan sebelumnya selalu make oli-oli mahal. Tau-tau doi sekarang disuruh pake oli murah dulu ama yang punya. Haha…sabar ya, sebulan doank kok.

Seperti biasa, Ane sambangin Toda Paramount Serpong. Mengalihkan mata dari Repsol Moto Sintetico dan Fuchs Silkolene, Ane lumayan lama untuk memutuskan oli mana yang akan dibeli kali ini. Shell AX7? Nope, Ane udah pernah pake dan motor jadi ga ada larinya. Elf Moto 4T? Pengen nyoba sih, tapi hati ini udah ga yakin bakal cocok di Cibi. Motorex? Haa…haa…, ngga-ngga-ngga-ngga-ngga-ngga-ngga-ngga-ngga. Muahal banget. Sisanya ada Pertamina Enduro, Idemitsu, Motul, Amsoil, Q8, Valvoline, dan Liqui Moly. Sayang, harganya pada diatas 100rb semua.

Then, miracle happens. Di sebelah Shell AX7, Ane melihat ada satu botol oli Repsol Moto 4T Sport yang duduk manis rada dibelakang rak macem kucing malu-malu (atau malu-malu kucing?). Hmm, cek harga…ternyata cuma 57rb. Speknya lumayan baru, 10W-40 API SL JASO MA2. Begitu juga dengan labelnya yang udah pake versi 2016. Oke deh, Ane ambil ini aja.

Setelah ganti oli, Ane langsung testing jalan nyantai. Feeling-nya sih standar banget kalo di-compare ama oli Fuchs Silkolene sebelumnya. Akselerasinya ga terlalu kuat, ganti gigi rada keras, dan panas mesin lebih kerasa. Tapi…itu pas awalnya aja kok. Setelah si Cibi dibawa riding selama 10 menit, oli Repsol ini mulai berasa enak. Akselerasinya bagus, girbox empuk, namun panas mesin masih berasa di kaki. Apa memang karakter oli Repsol dimana-mana kayak gini ya, nunggu mesin panas dulu baru olinya mulai bekerja optimal. Yah…selain itu ga ada yang spesial sih dari oli ini. Masuk 1700 km aja, mesin udah berasa rewel tanda minta ganti oli. Well…it’s a cheap oil anyway…

Oke deh, sekian dulu review oli-nya. See u on next article 🙂