Plagiarisme sebagai Pelanggaran Etika

Menurut saya, plagiarisme sangatlah melanggar norma hak cipta. Yang namanya mengakui, menyalin, dan meringkas baik tulisan maupun multimedia disebut tindakan plagiarisme, dan sangatlah merugikan orang atau perusahaan yang menciptakannya atau membuatnya, karena itu juga berkaitan dengan kekayaan intelektual. Sebagai contoh sehari-hari, pembajakan film atau game DVD. Dampaknya, perusahaan pembuat film atau game itupun bisa merugi ratusan juta rupiah, bahkan lebih. Padahal biaya untuk membuatnya secara official sangatlah mahal.

Solusi untuk mengatasi tindakan plagiarisme ini sebenarnya kuncinya ada di Undang-Undang yang mengatur Hak Cipta dan Kekayaan Intelektual. Pejabat dan aparat yang menangani UU Hak Cipta tersebut harusnya bersikap lebih tegas. Coba kita pikir, kenapa sudah ada UU Hak cipta namun tindakan seperti pembajakan CD/DVD masih banyak terlihat di mal-mal? Itu karena UU Hak Cipta yang isinya kurang jelas dan terkesan tidak tegas. Maka itu, yang harus diperbaiki pertama kali adalah keseluruhan dari isi dan maksud UU tersebut, haruslah diperjelas, ditegaskan, dipublikasikan, dan tidak pandang bulu. Siapapun yang melakukan tindak pelanggaran hak cipta haruslah dihukum. Karena jika pelanggaran hak cipta ini terus berlanjut, bisa-bisa tidak akan ada lagi seseorang yang mau berkreasi karena ada rasa takut kreasi mereka akan dicuri orang lain.

Selanjutnya, kita harus membangun mindset konsumen akan pentingnya membeli sesuatu yang memiliki lisensi asli. Ini tidaklah mudah, karena tergantung pada daya beli konsumen. Jika daya beli mereka tinggi, maka membeli sesuatu yang asli tidak akan membuat mereka terbebani. Malah untung, mereka akan mendapat pelayanan langsung dari lisensi asli yang mereka dapat, seperti mendapat update produk, info produk, dan yang paling penting garansi dan kualitas produk.

Pepatah bilang, besar uang menentukan kualitas barang yang dibeli. Ini juga berlaku untuk produk bajakan. Harganya yang murah membuat konsumen yang daya belinya rendah tergiur. Namun dengan membeli sesuatu yang tidak asli, otomatis konsumennya tidak akan dapat pelayanan maupun garansi produk karena mereka punya lisensi palsu. Produk yang diterima pun belum tentu berkualitas. Ini justru merugikan konsumen, dan konsumen harusnya sadar akan hal itu.

Tinggalkan Pesan Disini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s